Fiksi

Oct
2010
11

posted by on Fiction

3 comments

Mama, aku ingin sekolah …

Sedih rasanya mengetahui mama tidak mengijinkan aku untuk mengikuti test ujian masuk SMK favorit di kota Purwokerto, bagi yang belum tahu, Purwokerto masuk dalam Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dan aku sendiri tinggal di kota kecil yang masuk dalam Kabupaten Brebes. Hari – hari aku lalui dengan tidak bersemangat. Sulit sekali menyerap pelajaran yang disampaikan. Istirahat setelah upacara bendera, aku mendapat informasi dari guru BK (Bimbingan dan konseling) ada test ujian masuk dengan menyertakann nilai raport dari semester 1 sampai semester 5, dan setelah aku melihat syarat-syarat yang di ajukan aku sangat yakin aku bisa lolos tahap pertama berbekal nilai-nilai raport, “yess optimis !!!”.

Pulang dengan girang aku ceritakan ke mama dan abahku perihal pendaftaran masuk SMK Favorit. memang kami bukan dari kalangan menengah ke atas, keluarga kami keluarga pas-pas an, dan aku anak pertama dari 5 bersaudara, jadi bisa kebayang bagaimana sulitnya kedua orang tuaku untuk membiayai seluruh anak – anaknya dan kebetulan kami semua sekolah. Orang tuaku selalu gagal menggunakan KB, jadinya jarak kelahiran antar anak dekat. Jika di bayangkan memang, sekolah yang aku maksud tergolong sekolah mahal bagi kalangan menengah ke bawah. Selesai menyampaikan semuanya aku agak merinding, dan berharap – harap cemas, apa tanggapan dari mereka?, abahku hanya memandangku dengan mata kosong dan mama masih diam seribu bahasa, alhasil, abahku masih mempertimbangkan permintaanku namun untuk mama, mama sangat tidak setuju aku mendaftar di sekolah itu.Dalam kamar, aku hanya bisa menangis, menangisi nasibku, kenapa sepertinya aku tidak di beri kesempatan sama dengan teman – teman yang lainnya. Memang alasan mama sangat logis, dengan kondisi kami yang ngepas, bagaimana membiayai sekolahku, mungkin aku bisa sekolah tapi adikku tidak bisa melanjutkan sekolah, oh tidak…aku tidak mau itu terjadi. Tapi aku yang saat itu sangat berambisi untuk bisa masuk ke sekolah favorit, masih belum menyerah sebelum mendapatkan jawaban dari abahku. Paginya aku berangkat sekolah tanpa pamit, saat itu emosiku masih sangat labil, sering ngambek jika salah satu permintaanku tidak di penuhi. Tepat, siang pada saat jam istirahat abahku datang dan menemui guru BK di sekolahku, saat itu juga abah membayarkan biaya pendaftaranku. Aku senang sekali, Terimakasih abah…

Setiap malam aku tidak pernah melewatkan untuk shalat malam, aku memang sudah terbiasa shalat malam dari SD, mama yang sering memintaku untuk shalat malam. Di setiap shalat malam aku selalu minta kemudahan jalanku menuju cita-cita ku untuk bersekolah di SMK favorit apapun itu yang terjadi. Agak ngotot memang, karena aku yakin masa depan ku disana. Sulit memang meyakinkan mama untuk setuju dengan permintaanku, tapi lambat laun karena melihat kesungguhanku belajar dan berdoa, mama akhirnya mengikhlaskan juga. Namun dengan satu syarat, Jika sampai aku di terima dan aku harus kos, aku harus memakai jilbab. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan, toh kalau memang sudah pakai jilbab sewaktu- waktu bisa di buka lagi, pikirku saat itu, mungkin saat itu hidayah Allah belum turun kepadaku.

Aku Percaya karena itu Aku Yakin

Dan akhirnya hari penantian itu tiba, apa hayo??. yap, benar hari itu merupakan hari penentuan kelolosan dari tes wawancara seminggu yang lalu. Karena saking tidak sabarnya sepulang sekolah aku langsung menuju wartel dekat sekolah, sengaja uang jajanku aku sisihkan sedikit buat membayar telephone. Nada sambung langsung terdengar di sebrang sana, tidak lama setelah itu, seperti mendengar suara yang sudah lama aku rindukan, “nama saya Anisa Rahayu, apakah saya di terima?”, “sebentar ya mbak saya cek dulu”, dag..dig..dug.., waktu serasa lambat sekali, perut agak mual rasanya jika kondisinya seperti ini. “Ya Allah kuatkan aku, jika yang ku dengar nanti hal yang terburuk”, tidak lama aku menunggu, langsung terdengar dari sebrang sana, “mbak Anisa Rahayu selamat anda diterima”. Alhamdulillah, syukur tidak terkira aku panjatkan kepada-Mu ya Robb, Engkau dengarkan doa hamba, Engkau ganti tetesan air mata hamba di sajadah panjang dengan nikmat yang begitu dalam, tak kuasa menahan haru bahagia rintik air mata keluar dari mataku membanjiri sebagian wajahku, tidak peduli disana ada banyak orang atau bahkan ribuan orang melihatku aneh, yang aku tahu saat itu aku merasa Allah sangat sangat menyayangiku, di depan wartel aku sempatkan sujud syukur 3 kali, ungkapan terdalam rasa syukurku. Berita gembira ini pun aku sampaikan ke kedua orang tua. Memang tidak mudah untuk di terima di sekolah favorit oleh karena itu aku sangat bersyukur, yah, aku bukan tipe pelajar yang pintar pintar amat, kemampuanku sedang – sedang saja, bukan aku tidak mensyukuri tapi kenyataanya seperti itu, tapi aku selalu bersyukur dengan apa yang sudah Allah berikan dalam diriku. Bahkan temanku yang lebih pintar dan juara kelas gugur di tes wawancara, entah kenapa, aku juga tidak tahu, mungkin Allah punya rencanya lain.

Sebenarnya di balik kebahagiaan ini, aku merasa sangat membebani keluargaku tapi selalu ku tepis dan yang aku pikirkan, aku harus bisa masuk ke sekolah itu. Dilain pihak Abah selalu meyakinkanku kalau aku bisa sekolah disana, sangat mendukungku. Akhirnya aku bisa masuk, dengan mengambil tabungan abah hasil penjualan kios dagang keluarga, dan sekarang abah dagang di kios sewaan. Aku bisa masuk kesekolah baru, mengharapkan bantuan dari keluarga abah atau mama sangat tidak mungkin. Memang tidak mudah bagiku menjalani semua setelah bisa masuk sekolah. Aku menyewa kamar kos sederhana dekat sekolah, dan setiap minggu selalu pulang untuk meminta uang saku yang memang hanya di beri jatah makan perminggu, sungguh sulit, terkadang karena saking pas nya, hanya untuk bisa makan dan untuk foto kopi juga pembelian buku – buku yang lain aku harus meminjam uang teman, minggu depannya aku ganti, kebetulan aku memang tidak pernah jajan, bagiku jajan hanya pemborosan. Sudah bisa makan saja dan sekolah aku sudah sangat bersyukur. Tak jarang juga setiap aku pulang ke rumah, sedih juga melihat mama yang kelimpungan meminjam sana sini untuk uang sakuku, jika memang sangat – sangat tidak ada, aku hanya di beri uang untuk ongkos naik bus saja ke purwokerto. Dibalik semua keadaan sulit yang aku alami, aku percaya Allah selalu menolongku dan aku yakin itu. Pertolongan Allah sering tidak di sangka-sangka, terkadang datang traktiran teman, bantuan pinjaman teman, ada yang mengirim makanan dan banyak lagi. Disetiap sujud panjangku di tengah malam, aku selalu meminta kepada-Nya agar selalu memudahkan jalanku dan jalan keluargaku. Mungkin itulah keajaiban dari doa, Allah senantiasa menolong kita jika kita selalu meminta kepada-Nya. Bukankah itu janji Allah, “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan”.

Masa – masa sulit itu….

Tidak mudah menjadi anak kos, hanya menerima jatah dari orang tua dan meminta lagi jika jatah sudah habis, maka bagi siapa yang tidak bisa berhemat belum jatuh tempo sudah minta lagi ke orang tua. Aku sudah terbiasa dengan kekurangan, Setelah berpindah kos, (cari yang agak murah lagi boo…) memang kos yang dulu sudah murah, tapi menurutku aku ingin kos yang tenang, murah dan bersih, niatku kan untuk belajar menuntut ilmu jadi ga perlu kos yang mahal mahal wong cuma buat rebahan saja. Lagian jam sekolahku dari pukul 07:00-16:00, belum selepas pulang sekolah aku di sibukkan dengan berbagai organisasi yang aku ikuti, biasanya sampai kos pukul 19:00, dan bisa belajar pukul 20:00. Kebetulan di kos yang baru karena pemilik kos sudah sepuh (lanjut usia), kami selalu di beri makan malam gratisss…tuh, kan rejeki Allah selalu datang dari arah yang tidak diduga, memang Maha pemurah Rejeki, Alhamdulillah..aku dan teman sekamarku sering makan bersama almarhumah mbah Bau (sebutan orang dulu kepada lurah, dulu suami si mbah Lurah) karena si mbah selalu kelebihan makanan.

Setiap pagi aku selalu makan nasi kucing dengan harga Rp. 1000, nasinya sedikit memang, biasanya aku beli 2 bungkus, satu bungkus buat untuk bekal di sekolah makan siang karena aku tidak pernah jajan di kantin sekolah. Kalau di kalkulasi dalam seminggu aku cuma menghabiskan makan 14.000 (pada jaman itu tahun 2006). Sisa uang itu biasanya aku alokasikan buat keperluan sekolah, membeli buku dan mengikuti organisasi. Uang saku yang di beri orang tuaku tidak sebanding dengan teman – teman yang lain. Kadang ada temanku yang dalam sehari bisa menghabiskan 10.000 – 20.000 hanya untuk makan dan jajan. Bagiku yang penting perut kenyang jadi aku bisa belajar tanpa perut keroncongan, hehe….sampai sekarang aku sering merindukan si mbah karena budi baiknya memberiku makan tiap malam, aku bisa menyelesaikan sekolahku tanpa hambatan apapun, terimakasih mbah, semoga amal ibadahmu di terima di sisi Allah SWT Amin.

Apapun masa sulit anak kos, insya allah sudah pernah aku alami. Bahkan mungkin aku lebih sulit dari teman- teman yang lain, terkadang ada beberapa teman yang bilang kepadaku, “ kok kamu bisa cuma makan itu-itu saja setiap hari apa ga bosan?”,mungkin juga karena makananku cuma mendoan sayur terus, jadi temanku berkata seperti itu, aku hanya tersenyum kecil dan berkata “ aku sudah terbiasa kok, jadi kamu tidak perlu khawatir, aku baik – baik saja, sehat wal’afiat”, (jawabanku lengkap kan..). Kadang mungkin karena mukaku memelas, hehe, emang dari sana ga di buat – buat itu… teman aku malah mentraktir makanan buat aku. Ya sudah aku terima saja, toh tidak boleh menolak rejeki apalagi anak kos, yang terkenal dengan rakusnya terhadap makan, hayoo ngaku yang anak kos, hihihihi…sekali lagi pertolongan Allah akan datang kepada Mereka yang percaya.

Insya Allah ma…

Sampai suatu hari aku pulang di akhir pekan, buat apa lagi kalau bukan karena uang sudah habis, orang tuaku sedang tidak mempunyai uang, untuk makan dan sekolah adik – adikku saja, terkadang pinjam ke saudara itu pun dengan oleh – oleh omongan yang tidak enak. Ga enak banget kan ya kalau orang tua kita di gituin, tapi mau gimana lagi, aku tidak bisa berbuat apa – apa. Dalam hati aku berjanji aku harus kerja jika sudah lulus dari SMK ini, Harus!! dan aku yakin aku bisa buktikan kalau aku bisa berdiri sendiri dan menyelamatkan keluargaku dari kondisi sulit seperti ini. Tak jarang mama sering nangis jika habis meminjam uang. Karena aku tidak bisa melihat orang nangis aku pun ikut nangis, jadilah di rumah kontes nangis,(hiks…). Mama sering berpesan,”kamu harus bisa menjadi orang yang sukses”, aku jawab, “ insya allah ma…”. Memang sekolahku sering menyalurkan beberapa siswanya untuk mengikuti test kerja di beberapa perusahaan sesuai bidang yang di ambil. Semoga Allah memudahkan jalanku menuju kesana..

Aku pun berangkat menggunakan bus ke Purwokerto untuk menunaikan tugasku sebagai pelajar SMK, sering didalam bus aku menangis ingat wajah mama dan abah saat melepasku pergi. Setiap aku pulang keinginan dan tekadku selalu menyala lagi, dan semangat lagi untuk belajar-belajar dan belajar lebih giat lagi agar nilai – nilaiku bisa terus membaik, memang saat pertama masuk ke sekolah ini aku sangat ketinggalan dan kebetulan aku masuk di kelas unggulan. Jadi bisa kebayangkan gimana pintarnya orang- orang yang ada didalamnya kecuali aku saat itu. Mungkin karena drop mental nilai – nilaiku di awal semester langsung jeblok, derrrrr…aku kecewa…menjadi urutan yang hampir terakhir di kelas membuat aku shock tapi justru itu yang memicuku untuk semakin semangat belajar dan memperbaiki nilai – nilai tak terkecuali wajah mama, abah dan adik – adikku merupakan motivasi utama agar aku menjadi lebih baik lagi. Semua berjalan dengan baik, semua itu tak lepas dari sujud – sujud panjangku tiap malam agar jalanku selalu di mudahkan. Sekali lagi Allah memang maha penyayang makhluknya. Nilai – nilaiku menjadi lebih baik stabil di rata-rata 8 tiap semesternya.

Hidayah itu datang…

Saat itu aku sedang berjalan – jalan dengan teman perempuan beberapa saat dia mendapat siulan dan panggilan dari pemuda – pemuda kampung yang suka nongkrong di pinggir jalan, ya, hanya dia saja yang disana, temanku memang kategori anak cantik, manis dan berkulit putih, seakan mereka tidak mempedulikan aku, mungkin karena aku berjilbab jadi menurut mereka aku tidak menarik kali ya tidak seperti teman sebelahku…tapi tidak jadi masalah buatku, dengan begitu aku merasa nyaman dan tidak di ganggu oleh mereka yang usil, bener ga?? setelah itu aku tidak pernah mau melepaskan jilbab kemanapun aku pergi, memang dulu sering copot pasang, mungkin ini hidayah dari Allah SWT. Terkadang terbersit wah nanti aku ga ada yang lirik nih, hehe… tapi ketakutan itu langsung ku tepis, ah jodoh itu sudah ada yang atur, suatu saat pasti ada yang nglirik aku, hihihi…(berharap boleh kan…). Akupun aktif dalam organisasi ROHIS (Rohani Islam) di sekolahku, sering kami melakukan liqo dan sejening mentoring lainnya, terkadang mewakili ROHIS sekolah untuk mengikuti pertemuan ROHIS antar sekolah di kabupaten banyumas.

Dari sini aku menemukan teman – teman seperjuangan dalam menyiarkan agama islam, dari organisasi ini juga aku bisa lebih dalam mengenal dan mempelajari islam. Dan semoga dari sini juga aku bisa menemukan jodohku, hehe, (ngayal mode on …), berharap lagi.. Hidupku semakin ringan dengan kehadiran teman – temanku yang selalu meneduhkan kalbu, sering aku mendengar tausiyah – tausiyah dari para murrabi yang datang ke sekolah kami, hal itu membuat aku menjadi lebih kuat dengan kondisi ku yang sungguh sulit saat itu. Teman sekamarku sering menasehatiku seperti ini, “ tersenyumlah Nis, senyum itu ibadah, jalani hidup ini dengan senyum walaupun itu pahit”, hikss… bener juga ya, terkadang senyum juga membuat hidup menjadi ringan loh dan yang tidak boleh ketinggalan selalu memohon pertolongan kepada Allah, pasti Dia akan mengabulkannya, percayalah, doa dan ikhtiar adalah jurus paling ampuh disetiap aku melewati masa – masa sulitku.

3 comments

  1. arisikhwan
  2. Ndut
  3. Ndut

Trackback e pingback

No trackback or pingback available for this article

Leave a Reply